Berdamai dengan Alam di Shanaya Resort Malang

Malang…, kota pelajar yang sejuk dan dikelilingi pegunungan, sudah sejak lama menjadi primadona destinasi wisata warga Jawa Timur. Seiring dengan tersebarnya foto-foto instagrammable para travelista di media sosial, kota ini semakin menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin pergi mencari ketenangan, menjauh sejenak dari hiruk pikuk kota besar yang menyesakkan. Wisatawan umumnya menginap di kawasan kota Malang, atau naik ke arah puncak Batu yang memang dipenuhi kawasan wisata keluarga. Tapi kini industri wisata mulai menyebar ke pinggiran kota ini, yang dahulu hanya dijadikan area transit oleh para wisatawan. Sebut saja pemilik Shanaya Resort, yang percaya diri memilih desa Ngijo, Karangploso (sebuah Kecamatan di pinggiran kota Malang) sebagai lokasi tempat peristirahatannya. Daerah ini dekat dengan jalan alternatif menuju kota Batu. Jika anda berkendara dari Surabaya, maka anda harus berbelok ke arah kanan di pertigaan Bentoel yang dikenal sebagai pintu gerbang Kota Malang untuk bisa menemukan properti ini.

Pool View Villa

Yang tidak disangka, lokasi resort ini ada di dalam sebuah perumahan bernama Griya Permata Alam (orang setempat lebih akrab menyebutnya GPA). Setelah memasuki pintu gerbang kawasan resort, kita dimanjakan dengan pemandangan khas desa dan bukit. Rimbun pepohonan, dan kicau burung saling bersahutan. Kami tiba di siang hari yang cerah, sebelum check in kami menyempatkan mengitari lokasi resort. Untuk yang tidak membawa kendaraan, pihak resort sudah menyediakan mobil wisata terbuka untuk membawa tamu dan barang-barangnya ke villa mereka masing-masing. Di resort ini, hunian didesain layaknya villa tropis tanpa pagar yang dikelilingi rumput hijau dan kolam renang. Tampak taman-taman yang dipelihara dengan rapi dan menghadirkan lansekap yang menarik di atas bukit.

Taman di Samping Villa

Desain hunian merepresentasikan budaya jawa yang kental. Dimulai dengan hiasan wayang di dinding kamar tidur, keramik buatan tangan khas Yogyakarta berdesain jadul, dan berbagai pajangan tradisional yang diletakkan di sudut ruangan.

Tapi jangan salah, seluruh fasilitas dibuat dengan standar internasional, kasur dengan bedding set katun jepang yang halus, televisi layar datar, kulkas, ruang berhias dan walk in closet yang mewah, dan juga kamar mandi yang modern dengan kombinasi bathtub dan shower yang apik.

Kita bisa berendam di sini sambil menikmati pemandangan taman belakang yang serba hijau dan menenangkan. Belum lagi pemandangan dari teras belakang yang dilengkapi “amben”, tempat duduk berbentuk dipan yang diletakkan di sudut, kami sekeluarga suka menghabiskan waktu di sini sambil bercengkerama dan menikmati hidangan makan siang.

Pemandangan di Teras Belakang

Di pagi dan sore hari, anak-anak tak sabar menceburkan diri ke kolam renang yang bersih dan terawat. Di sini ada 2 jenis kolam, kolam dalam yang diperuntukkan bagi pengunjung dewasa, dan kolam kecil yang ramah anak-anak. Jika hanya ingin bersantai sambil menikmati gemericik air, kami bisa bersantai di kursi-kursi malas yang dilengkapi busa empuk yang diletakkan berjajar di pinggir kolam.

Villa Kami Persis di depan Pool ini

Area ini juga bisa dinikmati hingga malam hari, lokasinya persis di depan pintu lodge kami dan di saat malam tiba, seluruh lampu di kawasan ini menyala, menambah keromantisan suasana. Parents yang mau pacaran di sini setelah anak-anak tidur, boleh juga lho….hehe. Kabarnya pengembang juga akan membangun villa-villa dengan kolam renang pribadi.

Shanaya Resort sebenarnya memiliki restoran yang dilengkapi berbagai menu, namun kami lebih memilih menikmati hidangan makan malam di teras belakang rumah (eh, villa) yang privat dan menenangkan. Di sini kami saling bertukar cerita, bersenda gurau, hingga malam menjelang. Senangnyaa, bisa menikmati waktu berkualitas dengan anak-anak.

Kawasan seluas 14 hektare ini memang masih dalam pengembangan. Sejauh ini sudah ada 39 unit villa yang menyasar kalangan menengah ke atas. Harganya sekitar 1,2 hingga 1,5 juta per malam. Properti ini juga menempati rangking teratas di sejumlah situs pencarian wisata, seperti traveloka dan booking.com. Meski demikian, pengelola masih perlu mengembangkan aktifitas-aktifitas untuk pengunjung di dalam resort. Apalagi buat kami, pengunjung yang mager (alias males gerak), setelah memasuki pintu gerbang, tidak sedikitpun kami ingin beranjak dari resort hingga waktu check out tiba. Menurut rencana, pengembang hendak menyediakan sebuah teater terbuka berkapasitas 700 orang, yang nantinya akan dimanfaatkan untuk menampilkan budaya khas kota Malang. Wah, inisiatif yang baik dari pengusaha lokal ya. Kita tunggu realisasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *