Pengalaman Melihat Matahari Terbit di Bromo Bersama Anak-anak

Bromo! Keindahan Gunung yang namanya berasal dari bahasa sansekerta “Brahma”, salah satu Dewa utama di agama Hindu ini harum hingga ke mancanegara. Setiap tahunnya, ada ratusan ribu wisatawan baik dari dalam dan luar negeri memadati area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menjadi saksi kedigdayaan gunung berapi yang satu ini. Gunung dengan tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut ini berada di empat wilayah di Jawa Timur, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Tim Koper Mini memang sangat sering berkunjung ke Jawa Timur, apalagi Malang adalah kampung halaman si Bunda. Tapi kami memutuskan menunggu sampai anak-anak cukup besar untuk bisa berpetualang di Bromo dan lautan pasir yang mengelilinginya. Bukan apa-apa, suhu di pegunungan Tengger bisa drop sampai minus derajat Celsius di waktu-waktu tertentu. Belum lagi anak-anak harus cukup kuat untuk melakukan aktifitas fisik seperti mendaki gunung dan trekking.

Gunung Bromo yang Digdaya

Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba… Si kakak sudah 7 tahun, dan si adik hampir 6 tahun. Kami menyusun rencana untuk segera mengajak anak-anak menaklukkan Bromo. Hahaha. Well, ternyata tidak perlu takut kelelahan untuk menikmati panorama di Bromo, karena sekarang sudah banyak jasa jeep dan kuda yang bisa mengantarkan kami langsung ke kaki gunung Bromo tanpa mengeluarkan keringat sedikitpun. Apalagi di suhu 5 derajat ya….badan dan bibir pengunjung bisa langsung kaku. Hehehe.

Desa Ngadisari

Untuk bisa mencapai kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kita bisa melalui 2 jalur, yakni Malang-Pasuruan-Bromo, atau dari arah lain, yakni kota Probolinggo. Tapi untuk yang membawa anak-anak, kami sarankan masuk lewat Malang saja. Untuk wisatawan yang datang dari luar daerah, anda bisa pilih mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh, Malang dan langsung lanjut perjalanan darat ke Bromo, atau anda juga bisa menginap di Malang untuk sejenak berjalan-jalan dan berpetualang di kawasan wisata di Batu, sebelum anda pergi ke Bromo. Jika menginap di Malang, maka anda dan keluarga bisa menyewa jeep Toyota Landcruiser FJ 40 yang akan menjemput keluarga anda langsung dari hotel di Malang. Jeep tersebut akan menjemput anda di jam 2 dini hari, supaya bisa sampai di Bromo menjelang matahari terbit. Ya, pemandangan sunrise di Bromo menjadi primadona setiap wisatawan yang pergi ke sini. Harga sewa jeep berpenampakan unik ini sekitar Rp 1 Juta (dari Malang).

Atau jika ingin berhemat, bisa juga anda pergi dengan mobil sewaan dan menyetir sendiri ke Bromo. Anda bisa menginap di hotel atau guest house di sekitar Desa Ngadisari. Ngadisari dan dua desa lainnya yaitu Wonotoro dan Jetak terletak di kawasan lereng perbukitan Cemoro Lawang, desa terdekat dengan Gunung Bromo. Di bagian barat terdapat lautan pasir, Gunung Batok dan Gunung Bromo. Sementara di utara hingga timur berjajar Gunung Lingga (Penanjakan), Lengkong, Brak dan Gunung Ringgit. Di selatan terdapat Gunung Pundak Lembu. Di sekitar desa ini ada banyak pilihan tempat menginap. Kami menginap di Hotel Café Lava, setelah membaca puluhan rekomendasi di booking.com. Ulasan lengkap tentang hotel ini akan kami ulas di artikel berikutnya ya.

Jeep di Pintu Masuk Bromo

Jika anda memutuskan langsung menginap di Ngadisari, maka anda bisa memesan vendor Jeep yang bisa membawa anda ke kaki Gunung Bromo langsung di desa ini. Harga sewa jeep untuk penjemputan dari hotel di Bromo bervariasi dari 350 ribu hingga 500 ribu untuk 3 titik terbaik Bromo, diantaranya Sunrise Point (Penanjakan 2), Kaki Gunung Bromo dan Batok, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Sayangnya sepekan sebelum kami tiba, Bukit Teletubbies yang berupa gundukan-gundukan rumput dan ilalang itu terbakar. Pemandu kami menginfokan bahwa lokasi tersebut tidak lagi layak untuk berfoto alias instagrammable. Jadi kami mencoret Bukit Teletubbies dari daftar itinerary.

Di Kaki Gunung Bromo

Anyway, parents…membangunkan anak-anak di dini hari bisa jadi pekerjaan rumah tersendiri. Untuk itu, sekedar tips, sebaiknya anak-anak sudah memakai long john dan baju lengkap saat tidur. Pakaian long john adalah semacam pakaian dalam ketat yang melekat di kulit dan fungsinya menghangatkan badan.

Jika anak-anak sulit bangun dini hari, anda tinggal menambahkan jaket luar. Perlukah pakai long john? Well, untuk anak-anak yang terbiasa tinggal di daerah tropis, sebaiknya long john tetap dipakai. Mengingat suhu udara di sekitar Bromo untuk malam dan dini hari di bulan September kemarin mencapai 5 derajat Celsius. Bagi yang terbiasa pergi ke gunung tentu tahu sebaiknya menggunakan pakaian berbahan parasut, dibandingkan jeans atau kain katun untuk menghalau hawa dingin. Alhamdulillah di saat kami tiba di sana, cuaca cerah. Jadi kami bisa menikmati matahari terbit di puncak Penanjakan 2 dengan lancar.

Jeep menjemput kami di Hotel Cafe Lava sekitar pukul 4 subuh. Kami berempat langsung bergegas, karena tidak sabar untuk segera melihat pemandangan Bromo dari atas.

Sesampainya di Bukit Penanjakan, deretan jeep parkir dan menurunkan para wisatawan. Ada wisatawan yang memilih trekking atau berjalan kaki ke puncak bukit. Tapi kami memilih menyewa kuda, supaya anak-anak bisa agak menghemat tenaga. 1 kuda dihargai 150 ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi dari dan kembali ke jeep. Di puncak bukit, kami berkumpul Bersama puluhan wisatawan lain yang hendak mengabadikan sunrise. Di sudut bukit ini terdapat sebuah warung yang menyajikan minuman hangat dan camilan. Minuman-minuman ini ternyata gratis dan merupakan bagian dari pelayanan untuk wisatawan yang sudah menyewa jasa jeep dan kuda. Di depan warung tersebut, sejumlah wisatawan mengelilingi api unggun.

Sambil Menikmati Minuman Hangat

Lumayanlah, saat dingin menyergap, paling tidak api ini bisa menghangatkan sampai fajar menjelang. Anak-anak senang bisa duduk di dekat api unggun untuk menghangatkan badan mereka yang nyaris beku.

Cakrawala Jingga di atas Bromo

Waktu menunjukkan pukul 4.30 WIB, ketika semburat cahaya jingga malu-malu menyeruak di bentang cakrawala. Menit demi menit kami menjadi saksi kuasa Illahi. MasyaAllah… begitu indah matahari terbit di Bromo.

Akhirnyaa…

Di hadapan kami ada sebuah lukisan istimewa, 3 gunung menjadi latar dengan cahaya Jingga yang makin lama makin menampakkan pesonanya.

Indahnya Bromo

Di samping kawah gunung Bromo, terlihat Gunung Batok yang rimbun. Sementara di belakang kedua gunung tersebut, bertengger dengan angkuhnya, Gunung Semeru yang juga menjadi salah satu destinasi favorit para pecinta gunung. Hari ini anak-anak kami mendapat pengalaman luar biasa, menikmati panorama pagi di Gunung berapi yang masih aktif ini.

Mengabadikan Momen

Petualangan tidak berhenti sampai di situ. Setelah puas mengabadikan momen-momen spesial ini, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan jeep ke kaki Gunung Bromo. Puluhan mobil jeep ternyata sudah berlalu Lalang sejak pagi. Lautan pasir yang luas ini seolah penuh misteri.

Jeep Menaklukkan Lautan Pasir

Masih ingat film “Pasir Berbisik” yang dibintangi Dian Sastro. Di lautan pasir inilah Dian dan kru film menghabiskan waktu saat syuting. Jeep kemudian parkir berdampingan dengan puluhan jeep lain dan deretan kuda. Di sini anak-anak memilih bermain pasir. “ Bun, aku mau bikin gunung ya…” kata Jingga sambil sibuk mengaduk-aduk pasir vulkanik. Badan mereka lumayan kaku karena diterjang hawa dingin. Jadi kami bekali mereka dengan sarung tangan. Tapi alhamdulillah, makin siang matahari mulai menghangat, sehingga membuat kami lebih nyaman.

Anak-anak Suka Sekali Naik Kuda

Jika anak-anak sudah cukup kuat mendaki 250 anak tangga Sampai ke bibir kawah Bromo, silakan melanjutkan perjalanan sampai ke kawah. Untuk kali ini, tim Koper Mini sudah cukup puas sampai di kaki gunung, karena anak-anak belum cukup kuat fisik untuk menanjak. Untungnya si Ayah dan Bunda sudah pernah trekking sampai ke puncak kawah Bromo beberapa belas tahun lalu. Rasanya menyenangkan jika bisa menaklukkan ratusan anak tangga itu, meskipun kaki langsung terasa pegal tingkat dewa. Hehe

Setelah puas bermain pasir dan naik kuda di sekitar kaki Bromo, kami pun menutup perjalanan singkat itu dengan mengabadikan foto-foto dengan jeep. Pilih latar gunung yang paling bagus, yang direkomendasikan si sopir jeep. Atur tripod, siapkan anak-anak, smile…lalu klik! Foto-foto indah berlatar Gunung Bromo dan Gunung Batok siap dipamerkan di media sosial 😊 Sampai jumpa lagi, Bromo!

See You Again, Bromo!

Untuk petualangan tim Koper Mini lainnya di Malang dan sekitarnya, bisa klik link di bawah ini ya

Akhir Pekan Seru di Batu Malang

Malang Smart Arena, Playground Indoor Terbesar di Malang Raya

Berdamai dengan Alam di Shanaya Resort Malang

Liburan Keluarga di Senyum World Hotel Batu Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *