Menjelajah Lawang Sewu yang Misterius

Apa yang ada di benak anda saat mendengar kata Semarang? pasti sudah terbayang loenpia dan bandeng presto yang legendaris ya. Belum lagi sederet jajanan khas lainnya yang menggugah selera. Untuk mengisi liburan akhir tahun, tim koper mini melancong ke ibu kota provinsi Jawa Tengah ini. Apalagi akses menuju Semarang semakin mudah dengan dioperasikannya tol Trans Jawa. Hanya berkendara selama 6 hingga 7 jam saja dari ibu kota, kita sudah bisa menginjakkan kaki ke kota pesisir ini.  Selain berkunjung ke rumah Eyang, kami bertekad mengenalkan wisata sejarah kepada anak-anak, dengan menyambangi salah satu bangunan bersejarah paling misterius di kota ini. Apalagi kalau bukan, Lawang Sewu.

Kompleks Bangunan Lawang Sewu

Lawang Sewu berada di lokasi yang sangat strategis, tepatnya di Jalan Pemuda, bundaran Tugu Muda yang tidak jauh dari kantor Balai Kota dan pusat oleh-oleh khas Semarang. Lawang Sewu dalam Bahasa Indonesia diartikan “seribu pintu”. Tapi betulkah jumlah pintu di seluruh bangunan tua ini berjumlah seribu buah? Wah, ternyata dugaan kami selama ini salah. Jumlah asli pintunya hanya sebanyak 342 buah.

Pintu Berlapis di Lawang Sewu

Jika berkunjung ke situs bersejarah ini, pastikan anda dan keluarga menyewa seorang guide atau pemandu, karena dari pemandu inilah kita akan mendapat informasi tentang detail keunikan tiap sudut bangunan. Tak ketinggalan pula, kisah-kisah mistis yang menghiasinya.

Area Balkon Lantai Dua Lawang Sewu

Pernah dengar soal ruangan bawah tanah Lawang Sewu yang konon digunakan menjadi penjara di masa lampau? Nah pemandu kami menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada bukti atas dugaan adanya penjara tersebut. Alih-alih, orang Belanda saat itu membangun basement atau ruangan bawah tanah dan mengisinya dengan air untuk menjaga suhu ruangan agar tetap dingin di cuaca yang terik. Ya, hitung-hitung ini AC alami yaa..hehe.

Rangka Atap yang Kokoh dan Misterius

Lalu ada satu lagi ruangan yang disebut-sebut angker, yakni di atas loteng (sebuah ruangan di bawah atap). Untuk menuju ke atas, kita harus melewati sebuah tangga yang curam dan tanpa pagar. Untuk itu lokasi ini tidak direkomendasikan untuk anak-anak. Dahulu, loteng ini digunakan untuk tempat mengamati musuh. Kini ruangan loteng dibiarkan kosong dan tanpa perabot. Ketika memasuki ruangan ini, atmosfernya memang terasa berbeda. Kami sayup-sayup mendengar kicau burung, meski tak berhasil melihat penampakannya.

Sang pemandu melanjutkan kisahnya. Sebagian besar elemen bangunan ini diimpor langsung dari Eropa. Di masa lampau, seluruh bahan bangunan itu dibawa ke Indonesia dengan menggunakan kapal. Kualitas bahan yang baik membuat tekstur tembok dan tiang penyangganya amat kokoh. Ruangan Lawang Sewu juga dihiasi kaca-kaca hias yang indah. Kemegahan karya seni arsitektur ini mengundang decak kagum para pengunjung, tak terkecuali kami.

Lawang Sewu pertama kali dibangun pada tahun 1904, dan menurut pemandu, Gedung ini dulunya adalah kantor Perusahaan Kereta Api Milik Belanda (NIS). Tak heran kalau gedung bersejarah ini kemudian dimanfaatkan menjadi museum kereta api. Ada sejumlah ruangan yang dihiasi dengan pigura-pigura foto tua di setiap sisi dinding. Pengunjung bisa menilik lebih dalam soal sejarah perkeretaapian melalui video yang ditayangkan.

Ada pula sejumlah gerbong dan lokomotif yang sengaja diletakkan sebagai obyek para wisatawan berfoto. Anak-anak sangat suka bermain di area ini. Mereka bisa dengan bebas menaiki lokomotif dan bergaya sesuka hati.

Lokomotif Tua di Halaman Lawang Sewu
Miniatur Kereta di Museum

Di tengah kompleks bangunan Lawang Sewu terdapat sebuah taman luas, dengan sebuah pohon mangga raksasa yang menjadi titik perhatian. Banyak pengunjung yang melepas lelah di sini, sambil mendengarkan alunan musik tradisional yang dilantunkan sebuah grup musik. Karena pelatarannya yang sangat luas, anak-anak berkejar-kejaran dengan riang di area ini.

Bangunan peninggalan Belanda yang menjadi ikon kota Semarang ini dibuka untuk umum dari Senin hingga Minggu sejak pukul 07.00-21.00 WIB. Harga tiketnya juga tergolong murah. Untuk orang dewasa dikenakan Rp. 10 ribu/orang. Sementara untuk anak-anak dikenakan biaya Rp. 5 ribu/anak. Jadi tunggu apalagi, kalau sedang berkunjung ke Semarang, sempatkan berwisata sejarah di Lawang Sewu ya. Selain oleh-oleh foto-foto ciamik, wisata Lawang Sewu juga bisa menambah wawasan dan pengalaman anak-anak. Selamat berlibur!

 

Comments

  1. Melina Sekarsari

    Kalau membaca tulisan tentang Lawang Sewu, aku sedih. Ironis sekali. Aku lahir di Semarang, tapi belum pernah mengunjunginya. Tahun lalu ke Semarang, penginapan dekaaat banget dari Lawang Sewu. Tinggal buka tirai, kelihatan deh Lawang Sewu-nya. Tapi anak-anak rewel karena sakit dan mengeluhkan cuaca yang panas banget. Mereka nggak ada yang mau ikut. Akhirnya, seperti sejak awal kedatangan, kami hanya memandangi Lawang Sewu dari balik kaca jendela. Sungguh ironis, hahaha …

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *