Bercengkerama dengan Samudra dan Cakrawala di Gili Trawangan

Family Traveler yang menyukai pantai wajib menjadikan Lombok, Nusa Tenggara Barat sebagai prioritas tujuan. Berbeda dengan Bali yang lebih hiruk pikuk, Lombok adalah destinasi yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alam tapi juga kekayaan budaya Suku Sasak. Ya, pulau Lombok merupakan kampung halaman Suku Sasak. Sebelum mengeksplor kota Mataram, kami meletakkan Gili Trawangan di itinerary paruh pertama kunjungan kami di Lombok. Ada tiga pulau kecil di Kabupaten Lombok Utara, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Namun Gili Trawangan menjadi incaran utama wisatawan domestik dan mancanegara. Untuk mencapai Gili Trawangan, travelers bisa melalui Pulau Bali dan Pulau Lombok. Dari Pulau Bali,  anda bisa naik kapal cepat atau fastboat selama satu setengah jam dari Pelabuhan Padangbai dan langsung turun di Gili Trawangan.

Pulau Lombok dari Jendela Pesawat Kami

Sementara dari Pulau Lombok, anda bisa menyeberang dari Pelabuhan Bangsal. Setelah mendarat di Bandara Internasional Praya, Lombok, kami sekeluarga menumpang mobil sewaan seharga 250 ribu rupiah untuk mencapai Pelabuhan Bangsal. Di sini sebenarnya kami bisa saja mengunakan kapal angkutan umum, tapi karena kami pergi berwisata bersama keluarga besar, akan lebih cepat dan hemat jika kami menyewa kapal sendiri. Dengan merogoh kocek 500 ribu rupiah, kami bisa menyeberang dengan kapal pribadi. hehehe… Karena serasa milik sendiri, kami pun bebas selfie dan mendokumentasikan seluruh aktifitas selama di kapal. Jika anda seorang solo traveler atau traveling dalam grup kecil, lebih hemat tetap menggunakan kapal angkutan umum, cukup dengan membayar 15 ribu rupiah per orang, plus seribu rupiah untuk retribusi.

Menyewa Kapal untuk Menyebrang ke Gili Trawangan

Perjalanan dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan kami tempuh dalam waktu 45 menit saja. Sebaiknya pilih perjalanan di pagi atau siang hari, karena semakin sore ombak semakin tinggi dan beresiko goncangan semakin kuat. Tidak disarankan untuk yang mudah mabuk laut.

Dari kejauhan sudah terlihat sebuah Pulau yang menawan. Uniknya, di pulau yang luasnya 340 hektar ini sama sekali tidak ada kendaraan bermotor. Ya, tidak ada deru mesin mobil, atau raungan sepeda motor. Yang ada hanya suara tapak kaki si kuda delman yang bisa membawa penumpang, orang lokal menyebutnya “Cidomo”. Karena Villa yang kami sewa, Villa Samalama terletak di bagian tengah pulau, kami lalu menyewa Cidomo untuk membawa kami sekeluarga dan barang-barang bawaan. Sebagian keluarga memilih berjalan kaki sambil menikmati jingga di ufuk barat.

Villa Samalama Gili Trawangan

Alhamdulillah kami sampai di Villa yang dilengkapi kolam renang pribadi, outdoor lounge yang luas dan fasilitas berbagai permainan, termasuk tenis meja dan sepeda. Villa dengan 3 kamar dengan kolam renang pribadi ini dihargai sekitar hampir 5 juta rupiah. Hari menjelang malam, kami berkumpul bersama di beranda Villa sambil bertukar cerita. Sunyi di Gili Trawangan membuat  suasana kumpul keluarga semakin intim dan kontemplatif.

===

Anak-anak Suka Es Krim Gelato di Gili Trawangan

Rise and shine…Pagi di Gili Trawangan kami buka dengan sarapan yang sudah disediakan pihak Vila. Ada set American Breakfast yang terdiri dari toast (roti panggang), telur, jus buah dan teh/kopi. Untuk yang terbiasa sarapan nasi, bisa juga memesan nasi goreng ke cafe Vila ini. Pagi ini kami hendak menyusuri Pulau Gili Trawangan yang panjangnya 7,5 kilometer ini dengan berjalan kaki. Wah, kira-kira pegal tidak ya bawa 2 balita berjalan kaki keliling pulau? Well, kalaupun lelah, kami bisa saja menyewa Cidomo keliling Pulau, meski harus merogoh kocek agak dalam. Alternatif lain adalah dengan menyewa sepeda. Sebelum mengayuh, jangan lupa mengisi tenaga dulu dengan sarapan ya.

Nyerah Jalan Kaki Akhirnya Naik Cidomo

Senangnya di Pulau ini, semua terlihat dekat dan in a walking distance. Pantainya cukup bersih dengan hamparan pasir putih yang luas. Airnya bening biru kehijauan, sejauh mata memandang hamparan samudra yang tenang. Ya, cuaca cerah hari ini, cocok untuk piknik.

Pantai Gili Trawangan yang Indah

Di jalanan sepanjang pinggir pantai di kanan kiri terlihat banyak sekali cafe, restoran yang menyajikan hidangan sea food dan toko oleh-oleh. Rata-rata sekali makan di restoran di sini, per orang harus menyiapkan 100 ribu rupiah. Wisatawan domestik dan mancanegara terlihat berbaur dan memadati area turis ini.

Bermain Pasir dan Ombak di Gili

Sedikit berjalan menjauh dari keramaian, di ujung Pulau ini ada The Ombak Resort, yang kerap disinggahi wisatawan berkantong tebal. Resor bintang 5 ini tak hanya terkenal akan cottage-cottagenya yang indah, namun juga pantai pribadi yang menawan. Kami menghabiskan sore di kawasan ini, sambil mengabadikan foto di ayunan The Ombak yang instagrammable itu. Untuk bisa berfoto di sini, kami memang harus mengantri dengan pengunjung-pengunjung lain. Tapi mengantri dengan view ombak yang bergulung-gulung tentu jauh lebih menyenangkan daripada mengantri urus paspor kan? hehehe.

Nongkrong Seru di Pinggir Pantai

Sambil mengantri, kita bisa bersantai di kafe pinggir pantai, di sini pengelola menyediakan bean bag, dan kursi malas untuk pengunjung yang ingin melihat matahari terbenam di bentang cakrawala sambil minum jus buah khas negara tropis. Hari menjelang malam, kami putuskan menyewa cidomo untuk menuju ke pusat keramaian. Aroma hidangan laut yang lezat berhasil membuat kami berhenti untuk menyantap makan malam di pinggir pantai. Hmmm…perut kenyang, hati gembira. Salam dari anak pantai!

Memori Terindah di Gili Trawangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *